Mau Cuti Tahunan? Contoh Surat Rekomendasi yang Gak Ribet & Bikin Disetujui!
Cuti tahunan itu hak dasar setiap karyawan, sudah diatur lho dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan. Tapi, ada kalanya proses pengajuan cuti ini butuh sedikit “lampu hijau” tambahan dari atasan, terutama dalam bentuk surat rekomendasi. Nah, surat rekomendasi cuti tahunan ini jadi penting banget buat memastikan semua proses berjalan lancar dan tanpa hambatan, baik dari sisi karyawan maupun manajemen.
Surat ini sejatinya adalah bentuk persetujuan resmi dari atasan langsung seorang karyawan kepada pihak HRD atau manajemen yang lebih tinggi. Isinya menegaskan bahwa atasan mendukung permohonan cuti karyawan tersebut. Selain itu, surat ini juga seringkali menjelaskan bahwa kepergian karyawan untuk cuti tidak akan mengganggu operasional tim atau proyek yang sedang berjalan, karena semua sudah diantisipasi dan diatur dengan baik.
Image just for illustration
Kenapa Surat Rekomendasi Cuti Itu Penting?¶
Meskipun cuti tahunan adalah hak, terkadang ada situasi di mana surat rekomendasi menjadi pelengkap yang krusial. Biasanya ini terjadi di perusahaan dengan struktur organisasi yang kompleks atau di industri yang sangat bergantung pada kehadiran personel tertentu. Surat ini membantu memastikan bahwa keputusan cuti sudah melalui persetujuan berjenjang dan dipertimbangkan dari berbagai aspek.
Pihak HRD dan manajemen akan lebih mudah memproses permohonan cuti kalau ada rekomendasi dari atasan langsung. Ini menunjukkan bahwa atasan sudah mengevaluasi dampak cuti tersebut terhadap tim dan operasional. Jadi, surat rekomendasi ini bukan cuma formalitas, tapi juga alat komunikasi yang efektif antar departemen.
Komponen Penting dalam Surat Rekomendasi Cuti¶
Untuk membuat surat rekomendasi yang efektif, ada beberapa bagian penting yang harus ada di dalamnya. Ini memastikan bahwa semua informasi relevan tersampaikan dengan jelas dan tidak ada miskomunikasi. Mari kita bedah satu per satu agar kamu bisa menyusunnya dengan sempurna.
Pertama, kop surat perusahaan harus selalu ada di bagian atas. Ini menunjukkan bahwa surat tersebut resmi dikeluarkan oleh perusahaan dan memiliki legalitas. Lalu, jangan lupa juga nomor surat, lampiran, dan perihal yang jelas, seperti “Surat Rekomendasi Cuti Tahunan”.
Selanjutnya, tanggal surat dan pihak penerima surat (misalnya, Yth. Kepala Departemen HRD) juga harus tercantum. Kemudian, masuk ke isi surat yang paling penting, yaitu detail informasi karyawan yang mengajukan cuti. Ini meliputi nama lengkap, posisi, nomor identitas karyawan, dan departemen tempatnya bekerja.
Bagian inti adalah periode cuti yang diajukan, lengkap dengan tanggal mulai dan tanggal berakhirnya cuti. Lalu, yang tak kalah penting, pernyataan rekomendasi dari atasan bahwa ia mendukung permohonan cuti tersebut, kadang disertai alasan mengapa cuti ini bisa diberikan tanpa mengganggu operasional. Terakhir, penutup, hormat kami, nama dan tanda tangan atasan beserta jabatannya akan melengkapi surat tersebut.
Image just for illustration
Kapan Surat Rekomendasi Cuti Tahunan Biasanya Diperlukan?¶
Kamu mungkin bertanya-tanya, kapan sih surat rekomendasi cuti ini wajib ada? Nah, umumnya, untuk cuti tahunan biasa yang durasinya tidak terlalu panjang (misalnya 5-7 hari), prosedur perusahaan mungkin hanya memerlukan formulir pengajuan cuti yang ditandatangani atasan langsung. Namun, ada beberapa skenario khusus di mana surat rekomendasi menjadi sangat penting dan bahkan wajib.
Skenario pertama adalah ketika karyawan mengajukan cuti dalam durasi yang cukup panjang, misalnya lebih dari dua minggu atau bahkan sebulan. Dengan durasi cuti yang panjang, dampaknya terhadap proyek dan operasional tim bisa lebih besar, sehingga atasan perlu memberikan jaminan dan rencana handover yang jelas melalui surat rekomendasi. Kedua, jika pengajuan cuti bertepatan dengan periode krusial perusahaan, seperti penutupan buku, deadline proyek besar, atau peak season penjualan.
Ketiga, untuk karyawan di posisi kunci atau senior yang memiliki tanggung jawab besar, surat rekomendasi seringkali diminta sebagai bagian dari prosedur standar. Ini untuk memastikan bahwa semua tugas dan tanggung jawab sudah didelegasikan dengan benar sebelum cuti. Terakhir, kebijakan internal perusahaan juga sangat menentukan. Beberapa perusahaan memang menerapkan aturan bahwa setiap pengajuan cuti, apa pun durasinya, harus disertai surat rekomendasi dari atasan langsung sebagai bentuk persetujuan berjenjang.
Tips Menulis Surat Rekomendasi Cuti yang Efektif¶
Menulis surat rekomendasi cuti itu butuh perhatian khusus agar pesannya tersampaikan dengan baik dan proses persetujuan berjalan mulus. Baik kamu sebagai atasan yang menulis, maupun karyawan yang memohon, ada beberapa tips penting yang perlu diperhatikan. Ini akan membuat surat rekomendasi kamu jadi kuat dan meyakinkan.
Untuk Atasan (Pemberi Rekomendasi):¶
- Jelas dan Lugas: Hindari bertele-tele. Langsung sampaikan maksud surat dengan jelas, yaitu merekomendasikan cuti tahunan karyawan. Sebutkan nama karyawan, posisi, dan periode cutinya secara spesifik.
- Highlight Kinerja Karyawan: Jika memungkinkan, sebutkan secara singkat track record atau kontribusi positif karyawan. Ini bisa jadi nilai tambah yang membuat HRD lebih yakin untuk menyetujui. Contohnya, “Saudara [Nama Karyawan] selalu menunjukkan kinerja yang sangat baik dan bertanggung jawab.”
- Sertakan Rencana Kontingensi: Penting banget untuk menjelaskan bagaimana operasional tim akan berjalan selama karyawan cuti. Apakah ada handover tugas ke rekan kerja lain, atau ada backup plan yang sudah disiapkan? Ini menunjukkan bahwa kamu sudah memikirkan dampaknya secara matang.
- Pastikan Tidak Mengganggu Operasional: Tegaskan bahwa dengan segala pengaturan yang ada, cuti karyawan tidak akan mengganggu proyek atau kinerja tim secara keseluruhan. Ini memberikan rasa aman bagi manajemen dan HRD.
- Tepat Waktu: Usahakan surat rekomendasi ini dibuat dan diajukan jauh-jauh hari sebelum tanggal cuti yang diajukan. Jangan sampai mepet deadline yang malah bikin proses jadi terburu-buru dan kacau.
Untuk Karyawan (Pengaju Cuti):¶
- Pahami Kebijakan Perusahaan: Sebelum mengajukan, pastikan kamu tahu betul aturan cuti di perusahaanmu. Berapa hari yang bisa diambil, bagaimana prosedur pengajuannya, dan apakah butuh surat rekomendasi atau tidak. Ini krusial agar tidak salah langkah.
- Komunikasi Awal dengan Atasan: Jangan tiba-tiba mengajukan cuti tanpa bicara dengan atasanmu. Diskusikan secara informal dulu rencana cutimu, durasinya, dan kapan kamu berencana cuti. Ini memberi waktu atasan untuk mempersiapkan diri dan memberikan rekomendasi yang matang.
- Persiapkan Handover Tugas: Ini penting banget! Sebelum meminta surat rekomendasi, pastikan semua tugasmu yang urgent sudah selesai atau sudah ada rencana handover yang jelas ke rekan kerja. Tawarkan solusi dan jelaskan bagaimana pekerjaan akan tetap berjalan selama kamu tidak ada.
- Siapkan Dokumen Pendukung (Jika Ada): Jika cutimu bertepatan dengan event penting di luar pekerjaan (misalnya acara keluarga di luar kota), terkadang menyertakan sedikit informasi latar belakang bisa membantu. Namun, ini tidak selalu wajib dan tergantung kebijakan.
- Follow Up dengan Sopan: Setelah atasan membuat surat rekomendasi, pantau prosesnya dengan HRD. Lakukan follow up dengan sopan dan pastikan semua berjalan lancar sampai cutimu disetujui.
Langkah-langkah Mengajukan/Membuat Surat Rekomendasi Cuti¶
Membuat surat rekomendasi cuti mungkin terdengar rumit, tapi sebenarnya cukup straightforward jika kamu tahu langkah-langkahnya. Proses ini melibatkan beberapa pihak dan membutuhkan koordinasi yang baik. Mari kita bahas panduan langkah demi langkahnya agar kamu tidak bingung.
Langkah 1: Pahami Kebijakan Perusahaan¶
Ini adalah starting point paling penting. Setiap perusahaan punya aturan main sendiri soal cuti tahunan, meskipun dasarnya tetap UU Ketenagakerjaan. Kamu harus rajin mencari tahu di mana kebijakan itu tertulis, entah di Employee Handbook, Peraturan Perusahaan, atau Perjanjian Kerja Bersama (PKB). Pastikan kamu tahu berapa jatah cutimu, bagaimana mekanisme pengajuannya, dan apakah surat rekomendasi dari atasan itu mutlak diperlukan atau tidak. Jangan sampai salah langkah karena kurang informasi.
Langkah 2: Komunikasikan dengan Atasan Langsung¶
Setelah tahu aturan mainnya, langkah berikutnya adalah berdiskusi secara informal dengan atasan langsungmu. Sampaikan rencanamu untuk mengambil cuti, berapa lama, dan kapan perkiraan tanggalnya. Ini adalah kesempatan emas untuk membahas handover tugas dan memastikan bahwa tidak ada pekerjaan krusial yang terbengkalai selama kamu cuti. Komunikasi awal ini sangat penting untuk mendapatkan “restu” awal dari atasan.
Langkah 3: Atasan Menulis Surat Rekomendasi¶
Jika atasan sudah setuju secara lisan, kini giliran dia untuk menyusun surat rekomendasi resmi. Atasan akan menulis surat ini berdasarkan template yang ada di perusahaan (jika ada) atau membuatnya dari awal dengan mencantumkan semua komponen penting yang sudah kita bahas sebelumnya. Pastikan detail cuti, informasi karyawan, dan rencana handover tercantum dengan jelas. Atasan juga akan menegaskan bahwa cuti ini tidak akan mengganggu operasional tim.
Langkah 4: Ajukan ke HRD/Manajemen Bersama Formulir Cuti¶
Setelah surat rekomendasi ditandatangani oleh atasan, karyawan biasanya akan melampirkannya bersama dengan formulir pengajuan cuti resmi ke departemen HRD. Beberapa perusahaan mungkin mengharuskan atasan yang menyerahkan langsung, tapi umumnya karyawan yang akan membawa semua dokumen ini ke HRD. Pastikan semua dokumen lengkap dan sudah diisi dengan benar. Jangan lupa untuk menyimpan salinan untuk arsip pribadi.
Langkah 5: Pantau Proses Persetujuan¶
Setelah semua dokumen diajukan, tetap pantau proses persetujuan cutimu. Jangan ragu untuk bertanya dengan sopan kepada HRD atau atasan jika ada update atau jika ada hal yang kurang jelas. Proses persetujuan ini bisa memakan waktu, jadi kesabaran itu penting. Setelah disetujui, pastikan kamu menerima notifikasi resmi atau formulir cuti yang sudah ditandatangani sebagai bukti.
Contoh Surat Rekomendasi Cuti Tahunan (Template 1: Sederhana dan Langsung)¶
Berikut adalah contoh surat rekomendasi yang bisa kamu jadikan panduan. Format ini cocok untuk pengajuan cuti yang relatif sederhana dan tidak terlalu kompleks. Ingat, sesuaikan detailnya dengan data karyawan dan kebijakan perusahaanmu ya!
[KOP SURAT PERUSAHAAN]
Nomor: [Nomor Surat]
Lampiran: -
Perihal: Rekomendasi Cuti Tahunan
[Tanggal Surat]
Kepada Yth.
Kepala Departemen HRD
[Nama Perusahaan]
[Alamat Perusahaan]
Dengan Hormat,
Melalui surat ini, saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama: [Nama Atasan]
Jabatan: [Jabatan Atasan]
Departemen: [Departemen Atasan]
Dengan ini merekomendasikan permohonan cuti tahunan untuk karyawan kami:
Nama: [Nama Karyawan]
Nomor Identitas Karyawan: [Nomor ID Karyawan]
Jabatan: [Jabatan Karyawan]
Departemen: [Departemen Karyawan]
Adapun periode cuti tahunan yang diajukan adalah dari tanggal [Tanggal Mulai Cuti] hingga [Tanggal Selesai Cuti] selama [Jumlah Hari] hari kerja.
Kami telah memastikan bahwa dengan adanya rencana handover pekerjaan dan pengaturan tugas yang telah disiapkan, cuti yang diajukan oleh Saudara/i [Nama Karyawan] tidak akan mengganggu operasional dan kelancaran pekerjaan di departemen [Departemen Karyawan].
Demikian surat rekomendasi ini kami buat untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya. Atas perhatian dan kerjasamanya, kami mengucapkan terima kasih.
Hormat kami,
(Tanda Tangan Atasan)
[Nama Lengkap Atasan]
[Jabatan Atasan]
Contoh Surat Rekomendasi Cuti Tahunan (Template 2: Lebih Detail dengan Penjelasan Proyek)¶
Template ini lebih cocok untuk situasi di mana karyawan memegang peran penting dalam proyek atau departemen, dan atasan ingin memberikan jaminan lebih tentang kelancaran pekerjaan selama cuti.
[KOP SURAT PERUSAHAAN]
Nomor: [Nomor Surat]
Lampiran: -
Perihal: Rekomendasi Persetujuan Cuti Tahunan Karyawan
[Tanggal Surat]
Kepada Yth.
Bapak/Ibu Kepala Departemen HRD
[Nama Perusahaan]
[Alamat Perusahaan]
Dengan Hormat,
Saya, [Nama Atasan], selaku [Jabatan Atasan] di Departemen [Departemen Atasan], dengan ini menyampaikan rekomendasi terkait permohonan cuti tahunan dari karyawan kami:
Nama: [Nama Karyawan]
Nomor Identitas Karyawan: [Nomor ID Karyawan]
Jabatan: [Jabatan Karyawan]
Departemen: [Departemen Karyawan]
Saudara/i [Nama Karyawan] mengajukan permohonan cuti tahunan selama [Jumlah Hari] hari kerja, terhitung mulai tanggal [Tanggal Mulai Cuti] hingga [Tanggal Selesai Cuti].
Selama ini, Saudara/i [Nama Karyawan] telah menunjukkan dedikasi dan kinerja yang sangat baik dalam menjalankan tugas-tugasnya, terutama dalam proyek [Nama Proyek, jika ada]. Untuk memastikan kelancaran operasional selama Saudara/i [Nama Karyawan] cuti, kami telah melakukan beberapa persiapan:
1. [Sebutkan Rencana Handover 1, contoh: Penyerahan tugas harian kepada Sdr./i [Nama Rekan Kerja] yang akan bertindak sebagai backup.]
2. [Sebutkan Rencana Handover 2, contoh: Semua deadline penting proyek [Nama Proyek] telah diselesaikan atau dijadwalkan ulang dengan persetujuan tim.]
3. [Sebutkan Rencana Handover 3, contoh: Akses ke dokumen dan informasi krusial telah diberikan kepada pihak yang berwenang.]
Dengan demikian, kami yakin bahwa cuti tahunan Saudara/i [Nama Karyawan] tidak akan menimbulkan hambatan signifikan terhadap jalannya proyek dan kinerja departemen. Kami sangat merekomendasikan agar permohonan cuti ini dapat disetujui.
Atas perhatian dan kerja sama Bapak/Ibu, kami ucapkan terima kasih.
Hormat kami,
(Tanda Tangan Atasan)
[Nama Lengkap Atasan]
[Jabatan Atasan]
Fakta Menarik Seputar Hak Cuti Tahunan di Indonesia¶
Sebagai karyawan, penting banget untuk tahu hak-hak kita, termasuk soal cuti tahunan. Di Indonesia, dasar hukum utama mengenai cuti tahunan ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, khususnya pada Pasal 79. Pasal ini dengan jelas menyatakan bahwa setiap pekerja atau buruh berhak atas cuti tahunan sekurang-kurangnya 12 (dua belas) hari kerja setelah bekerja selama 12 (dua belas) bulan secara terus menerus. Jadi, cuti itu bukan sekadar hadiah, tapi hak yang dijamin undang-undang.
Nah, ada beberapa fakta menarik lain yang perlu kamu tahu nih. Jatah cuti 12 hari itu adalah batas minimal, lho! Banyak perusahaan, terutama yang besar atau yang punya kebijakan employee friendly, memberikan jatah cuti lebih dari itu. Ada yang 14 hari, 15 hari, atau bahkan lebih, tergantung kebijakan internal perusahaan atau Perjanjian Kerja Bersama (PKB). Jadi, jangan kaget kalau jatah cutimu lebih dari 12 hari ya, itu rezeki!
Selain itu, cuti tahunan itu bisa diakumulasi atau hangus, tergantung kebijakan perusahaan juga. Beberapa perusahaan memperbolehkan sisa cuti yang tidak diambil untuk diakumulasi ke tahun berikutnya atau bahkan diuangkan (meskipun ini tidak umum untuk semua perusahaan). Namun, ada juga yang menerapkan sistem “use it or lose it”, di mana jatah cuti yang tidak diambil pada akhir periode akan hangus begitu saja. Jadi, bijak-bijaklah dalam memanfaatkan hak cutimu ya! Cuti itu penting untuk kesehatan mental dan fisik, biar kita tetap produktif dan fresh.
Image just for illustration
Perbedaan Cuti Tahunan dengan Jenis Cuti Lainnya¶
Penting juga untuk membedakan cuti tahunan dengan jenis cuti lainnya yang diatur oleh undang-undang atau kebijakan perusahaan. Setiap jenis cuti punya dasar hukum, kondisi pengajuan, dan durasi yang berbeda-beda. Ini penting agar kamu tidak keliru saat mengajukannya.
| Jenis Cuti | Dasar Hukum Utama | Kondisi Pengajuan | Durasi Umum | Rekomendasi Atasan (biasanya) |
|---|---|---|---|---|
| Cuti Tahunan | UU No. 13/2003 | Setelah 1 tahun kerja, tanpa alasan khusus. | Minimal 12 hari kerja/tahun | Terkadang diperlukan |
| Cuti Sakit | UU No. 13/2003 | Sakit, perlu surat keterangan dokter. | Sesuai kebutuhan dan kondisi sakit | Tidak wajib |
| Cuti Melahirkan | UU No. 13/2003 | Melahirkan, keguguran, atau perawatan pasca melahirkan. | 1.5 bulan sebelum, 1.5 bulan sesudah (total 3 bulan) | Tidak wajib |
| Cuti Besar | Kebijakan Internal Perusahaan | Untuk karyawan senior, alasan khusus (misal: ibadah haji, pendidikan). | Variatif, bisa 1-3 bulan, tergantung perusahaan | Sangat diperlukan |
| Cuti Penting | UU No. 13/2003 | Pernikahan, kematian anggota keluarga, khitanan, pembaptisan. | 1-2 hari kerja | Tidak wajib |
| Cuti Haid | UU No. 13/2003 | Khusus wanita yang mengalami nyeri haid, berdasarkan keterangan dokter. | 1-2 hari per bulan, sesuai kondisi | Tidak wajib |
Dari tabel ini, jelas terlihat bahwa cuti tahunan dan cuti besar (jika ada di perusahaanmu) adalah dua jenis cuti yang paling sering membutuhkan rekomendasi dari atasan. Hal ini karena durasinya yang umumnya lebih panjang atau kondisi spesifik yang memerlukan persetujuan berjenjang. Sementara jenis cuti lain seperti cuti sakit atau melahirkan, cenderung lebih otomatis karena berdasarkan kondisi kesehatan atau kejadian tak terduga.
Kesalahan Umum yang Perlu Dihindari¶
Dalam proses pengajuan cuti, terutama yang membutuhkan surat rekomendasi, ada beberapa kesalahan umum yang sering terjadi. Menghindari kesalahan-kesalahan ini akan membuat prosesmu lebih lancar dan profesional. Jangan sampai hal-hal sepele malah menghambat hak cutimu ya!
Pertama, menunda pengajuan cuti dan surat rekomendasi. Seringkali karyawan atau atasan baru mengurusnya di saat-saat terakhir. Ini bisa menyebabkan prosesnya terburu-buru, deadline mepet, dan bahkan membuat HRD tidak punya cukup waktu untuk memprosesnya. Idealnya, ajukan jauh-jauh hari, minimal dua minggu atau sebulan sebelumnya.
Kedua, tidak adanya rencana handover yang jelas. Ini adalah kesalahan fatal. Atasan tidak bisa begitu saja memberikan rekomendasi jika tidak ada jaminan bahwa pekerjaan akan tetap berjalan. Karyawan juga harus proaktif menyiapkan rencana ini. Tanpa handover yang matang, cuti bisa jadi bumerang dan membuatmu dipandang kurang bertanggung jawab.
Ketiga, surat rekomendasi yang tidak spesifik. Terkadang, atasan membuat surat rekomendasi yang terlalu umum, tidak mencantumkan detail penting seperti periode cuti, nama lengkap karyawan, atau ID number. Ini bisa menimbulkan kebingungan dan memperlambat proses di HRD karena mereka harus melakukan konfirmasi ulang.
Keempat, melanggar kebijakan perusahaan. Setiap perusahaan punya prosedur cuti yang berbeda. Mengabaikan aturan ini, seperti mengajukan cuti saat peak season tanpa persetujuan khusus, atau mengambil cuti melebihi jatah yang ditentukan, bisa berujung pada penolakan cuti. Selalu patuhi aturan yang berlaku!
Manfaat Memiliki Surat Rekomendasi Cuti yang Jelas¶
Memiliki surat rekomendasi cuti yang jelas dan terstruktur itu bukan cuma formalitas, tapi juga membawa banyak manfaat lho. Baik untuk karyawan, atasan, maupun perusahaan secara keseluruhan. Ini menunjukkan profesionalisme dan perencanaan yang matang dari semua pihak yang terlibat.
Pertama, surat rekomendasi yang baik dapat mempercepat proses persetujuan cuti. Ketika HRD menerima surat yang lengkap dan jelas dari atasan, mereka akan lebih mudah memverifikasi dan menyetujui permohonan tersebut. Ini mengurangi bolak-balik dokumen dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu, sehingga kamu bisa lebih tenang merencanakan cuti.
Kedua, ini menghindari miskomunikasi antara karyawan, atasan, dan HRD. Semua informasi penting, seperti tanggal cuti, nama karyawan, dan persetujuan atasan, sudah tercatat secara tertulis. Jadi, tidak ada lagi salah paham atau lupa di kemudian hari. Ini juga sebagai bukti tertulis jika di masa depan ada dispute.
Ketiga, ini menjaga profesionalisme semua pihak. Karyawan terlihat bertanggung jawab karena sudah mengurus semua dokumen. Atasan terlihat mampu mengelola timnya dengan baik. Dan perusahaan menjaga transparansi dalam prosedur administrasi. Ini menciptakan lingkungan kerja yang terorganisir dan efisien.
Terakhir, surat rekomendasi ini memberikan rasa aman bagi atasan dan HRD. Atasan punya bukti bahwa ia sudah mempertimbangkan dampak cuti terhadap tim. HRD juga punya dasar yang kuat untuk memberikan persetujuan. Jadi, semua pihak merasa tenang karena prosesnya sudah sesuai prosedur dan tidak akan menimbulkan masalah di kemudian hari.
Gimana, sekarang sudah lebih paham kan pentingnya dan cara membuat surat rekomendasi cuti tahunan? Jangan ragu untuk bertanya dan berdiskusi dengan atasan atau HRD jika masih ada yang kurang jelas ya. Selamat mempersiapkan cutimu!
Bagaimana pengalamanmu dalam mengajukan cuti tahunan? Apakah perusahaanmu juga butuh surat rekomendasi dari atasan? Yuk, bagikan ceritamu di kolom komentar di bawah ini!
Posting Komentar